Stigma dan Diskriminasi terhadap ODHA



Di lingkungan masyarakat kita, stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV&AIDS (ODHA) masih banyak terjadi. Contohnya adalah keluarga yang tega mengusir anaknya karena menganggapnya sebagai aib, rumah sakit dan tenaga kesehatan yang menolak untuk menerima ODHA di tempatnya atau menempatkan ODHA di kamar tersendiri karena takut tertular. Ada pula aksi ekstrim masyarakat yang mengkarantina ODHA karena menganggap bahwa HIV&AIDS adalah penyakit kutukan atau hukuman Tuhan bagi orang yang berbuat dosa. Semua stigma dan diskriminasi ini muncul karena minimnya pengetahuan dan kepedulian kita terhadap HIV&AIDS. Padahal HIV&AIDS kini telah mengancam semua orang, termasuk ibu-ibu rumah tangga maupun bayi-bayi tanpa dosa yang baru lahir. Dengan kenyataan tersebut, masihkah kita berkutat dengan penilaian-penilaian negatif terhadap ODHA tanpa melakukan sesuatu yang dapat turut mencegah dan menanggulangi epidemi HIV&AIDS tersebut?

Tidak perlu semua orang turun langsung menemui penderita HIV&AIDS untuk membantu perawatan dan pengobatan. Tidak perlu semua orang pergi ke Papua atau ke Afrika untuk mengatasi epidemi HIV&AIDS yang telah sangat memprihatinkan disana. Mulailah dengan hal sederhana. Jangan melakukan stigma dan diskriminasi. Perlakukan ODHA seperti kita memperlakukan orang lain yang bukan ODHA atau bahkan seperti kita menginginkan orang lain memperlakukan kita. Lebih jauh lagi, dukunglah mereka dengan memberikan informasi, semangat, kesempatan, atau bantuan lain yang bermanfaat.


Mengapa kita perlu bersama-sama menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA?
  • Stigma dan diskriminasi membuat ODHA maupun keluarganya merasa takut atau malu untuk mengakui dan mencari bantuan. Mereka tidak mau pergi ke rumah sakit atau mencari informasi lebih lanjut. Hal ini membuat pendataan oleh rumah sakit atau instansi terkait menjadi sulit dilakukan. Pendataan yang sulit dilakukan membuat pemerintah, LSM, ataupun instansi terkait lainnya tidak dapat melakukan perencanaan strategis atau intervensi secara tepat sasaran karena tidak mengetahui secara jelas dimana wilayah-wilayah atau kelompok yang membutuhkan penanganan. Maka pencegahan maupun penanggulangan HIV&AIDS tidak pernah mendapatkan hasil yang baik, bahkan justru menjadi semakin buruk.
  • Kita cenderung menganggap bahwa HIV&AIDS adalah penyakit yang hanya ada pada kelompok homoseksual, pecandu narkoba, pekerja seks komersil, atau kelompok marginal lainnya. Padahal saat ini HIV dapat menginfeksi siapapun! Pemahaman yang salah ini membuat orang menjadi tidak terpikir untuk memeriksakan diri/melakukan Voluntary Counseling and Testing (VCT) karena menganggap dirinya tidak mungkin terinfeksi HIV. Mereka baru menyadarinya ketika kondisi telah kritis. Bahkan ODHA yang telah berada dalam tahap kritis pun adapula yang tetap memilih untuk diam dengan penyakit yang dideritanya karena tidak sanggup menghadapi lingkungan yang menstigma dan mendiskriminasi. Dengan demikian banyak terjadi kematian yang seharusnya dapat dicegah atau dikelola.
  • Dampak lebih lanjut dari tingginya angka HIV&AIDS atau angka kematian akibat AIDS adalah munculnya janda-janda atau anak yatim piatu yang kehilangan kepala keluarga sebagai penopang ekonomi keluarga ataupun munculnya masalah ekonomi akibat pembiayaan pengobatan yang mahal. Tidak adanya penopang ekonomi keluarga akan membuat anak-anak tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Kematian di usia muda (20-40) maupun kematian janin/bayi karena AIDS juga membuat semakin hilangnya generasi penerus atau kelompok usia produktif mengingat AIDS banyak ditemukan di usia kelompok produktif. Hal ini dapat semakin menurunkan jumlah maupun kualitas sumber daya manusia yang ada. Kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi apabila sumber daya manusia di Indonesia semakin memburuk.
  • Sebagai ODHA, kurangnya dukungan dari lingkungan (dukungan material, informasional, emosional, sosial, atau spiritual) akan membuat kualitas hidup mereka memburuk. Jangankan ODHA, kita yang bukan ODHA saja senantiasa membutuhkan dukungan-dukungan tersebut dari lingkungan. ODHA yang mendapatkan stigma dan diskriminasi di masyarakat tidak akan dapat bergaul, bekerja, dan menjalani hidupnya dengan baik. Perasaan putus asa, depresi, keinginan untuk bunuh diri atau merusak dirinya sendiri dapat menjadi masalah serius. Ini bukan hanya menimpa ODHA, namun juga dapat mempengaruhi keluarga ODHA ataupun orang-orang terdekatnya.

Penjelasan di atas seharusnya dapat menyadarkan kita bahwa HIV&AIDS adalah masalah bersama yang dampaknya sangat luas. Semoga artikel ini bermanfaat ☺

1 comment:

  1. ODHA juga manusia selayaknya kita
    Hanya berbeda di akhir hidupnya saja
    Sebelum di masa itu mrk jg sama spt kita, msh bisa lakukan sesuatu
    Tindakan ODHA yang baik atau buruk tergantung dari kita bagaimana memperlakukan nya
    Nga sedikit ODHA yg anarkis
    Tapi hanya sedikit sekali yang sadar bahwa kenapa mrk menjadi "anarkis"?
    Dan nga sedikit jg ODHA yang lebih cenderung terjun ke LSM terkait untuk membantu apa yang bisa di bantu sebagai pengabdian atas manusia

    Anggap kita smua adalah ODHA, kita akan tau kira" apa yg kita butuhkan dan apa yg hrs kita lakukan

    ReplyDelete

Blogger Template by Clairvo