Tags

Bagaimanakah Cara Mengatasi Konflik?



Dalam berinteraksi dengan lingkungan, kita pasti pernah menghadapi suatu konflik dengan orang lain. Cara penyelesaian konflik atau resolusi konflik yang kita pilih terkadang dapat menyelesaikan konflik dengan baik, namun terkadang justru membuat konflik semakin besar dan panjang. Lalu bagaimanakah resolusi konflik yang tepat dalam mengatasi suatu konflik? Berikut ini adalah model resolusi konflik yang diajukan oleh Tubbs dan Moss. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dari masing-masing model resolusi konflik tersebut. Individu diharapkan dapat secara fleksibel menggunakan setiap model resolusi konflik sesuai situasi dan tidak terpaku pada satu model resolusi konflik saja.

Ada lima model resolusi konflik dari Tubbs dan Moss, yaitu :

  • Menghindar
Menghindari masalah adalah cara termudah menghadapi konflik. Cara-cara menghindar yang biasanya dilakukan oleh individu adalah dengan menyangkal adanya konflik, tidak memberikan respon, mengalihkan pembicaraan mengenai suatu masalah, menyepelekan diskusi mengenai penyebab suatu masalah atau berpura-pura menganggap konflik yang terjadi sebagai masalah kecil. Individu juga biasanya berusaha menunda-nunda pembahasan mengenai suatu masalah.

Keuntungan dari menghindar adalah mencegah penggunaan kata-kata atau respon yang justru dapat meningkatkan konflik. Cara ini juga memberi waktu kepada individu untuk berpikir lebih dalam mengenai konflik yang dihadapi. Namun kerugiaannya adalah konflik tidak pernah dapat terselesaikan dan ketegangan cenderung menumpuk sehingga konflik semakin terakumulasi dan memburuk. Akhirnya, ketika diadakan diskusi mengenai masalah tersebut, maka perasaan marah akan meledak.

Cara menghindar lebih tepat jika digunakan untuk menghadapi masalah yang sifatnya tidak mendasar dan tidak memiliki dampak besar, dan jika membicarakan masalahnya justru akan meningkatkan konflik yang ada. Misalkan seorang suami yang baru saja pulang kantor dengan beban pekerjaan yang membuatnya lelah dan menjumpai istrinya yang menunggu dengan wajah kesal untuk membicarakan mengenai uang belanja yang ternyata masih kurang. Sang suami dapat saja menghindar untuk membicarakannya pada saat itu dan meminta istrinya memberikan kesempatan untuk dirinya beristirahat sejenak hingga rasa lelahnya hilang agar ia tidak menjadi emosional ketika membicarakannya dengan sang istri.

  • Kompetisi
Dalam kompetisi, salah satu pihak berusaha menggunakan agresi atau tekanan kepada pihak lain. Kompetisi juga dapat dilakukan dengan cara yang asertif yaitu meminta dengan cara tegas tanpa merendahkan orang lain dalam mengungkapkan keinginannya. Kompetisi juga dapat menggunakan kritik, konfrontasi, bahkan ancaman. Cara-cara kompetisi yang biasanya dilakukan adalah menyalahkan pihak lain atau mengajukan kritik (sarkastik, menyindir, menolak untuk disalahkan). Selain itu dapat juga membuat permintaan, tuntutan, atau memperdebatkan masalah. Keuntungan dari cara ini adalah dapat membuat pihak lain akhirnya bersedia merubah tindakannya ke arah yang diinginkan dan memberikan kesempatan kepada kedua pihak untuk mengekspresikan perasaan dan keinginan secara terbuka. Namun argumentasi dan pemaksaan juga dapat memperbesar konflik.

Tetapi bagaimanapun, resolusi konflik kompetisi dibutuhkan untuk menghadapi permasalahan yang membutuhkan keputusan penyelesaian konflik secara cepat dan dalam kondisi darurat. Kompetisi baik digunakan untuk konflik dimana salah satu pihak menolak untuk menghentikan tindakan yang berbahaya atau berdampak buruk bagi dirinya atau orang lain, misalnya orangtua yang memaksa anaknya untuk meminum obat agar penyakitnya segera sembuh atau orangtua yang secara paksa memasukkan anaknya ke rehabilitasi narkoba karena masalah ketergantungan narkoba yang semakin parah.

  • Kompromi
Pada kompromi kedua pihak sama-sama mengorbankan atau memberikan sesuatu untuk pihak lain karena hanya itu satu-satunya cara yang dirasa adil. Kerugiannya adalah biasanya kedua pihak sebenarnya tidak benar-benar ingin memperbaiki hubungan melainkan hanya usaha setengah hati untuk memenuhi kepentingan kedua belah pihak sehingga mereka terpaksa menjalani kesepakatan yang dibuat. Meskipun demikian, resolusi konflik kompromi menjadi cara terbaik apabila tidak ada cara lain yang dapat menyelesaikan konflik secara lebih adil dan memuaskan.

Misalnya dua pasangan suami istri yang sedang menjalani sidang perceraian dan menghadapi konflik mengenai harta gono-gini. Meskipun keduanya merasa tidak sepenuhnya puas dengan kesepakatan yang dibuat mengenai hak atas jumlah harta masing-masing namun hanya itulah cara satu-satunya yang dapat ditempuh pada saat itu.

  • Akomodasi
Pada akomodasi, seseorang menekan atau mengorbankan keinginannya sendiri demi menciptakan harmoni dengan pihak lain. Strategi ini biasanya efektif hanya untuk jangka pendek, karena cepat atau lambat keinginan atau kebutuhan yang ditahan tersebut akan muncul terutama saat pihak yang melakukan akomodasi merasa telah berkorban cukup banyak. Keuntungannya adalah hubungan menjadi terlihat baik-baik saja di luar untuk sementara waktu, namun tetap akan berkonflik juga pada akhirnya karena pengorbanan hanya dilakukan oleh salah satu pihak.

Resolusi konflik akomodasi tepat digunakan untuk keadaan dimana mempertahankan hubungan yang baik lebih dibutuhkan dibanding meneruskan konflik, misalnya ketika pasangan suami istri beradu argumentasi ketika sedang berkumpul bersama anak-anak mereka. Sang istri atau suami dapat saja mengalah jika hal itu akan mencegah pada pertengkaran yang semakin besar di hadapan anak-anaknya. Namun sebaiknya keduanya kemudian membicarakan secara terbuka berdua di waktu yang lain agar sang istri tidak menyimpan kekesalan yang berlarut-larut hingga suatu saat meledak.

  • Kolaborasi
Dalam kolaborasi terdapat kepedulian yang tinggi dalam mencapai tujuan bersama dan menjaga hubungan tetap baik. Di dalamnya terdapat rasa menghargai dan menghormati satu sama lain serta komitmen untuk mencapai solusi yang menguntungkan kedua belah pihak. Kolaborasi dilakukan dengan saling mengungkapkan pikiran dan perasaan secara terbuka dalam iklim yang suportif dengan penuh empati dan rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah demi kepentingan bersama. Kemampuan verbal dan nonverbal juga cukup berperan dalam proses kolaborasi karena komunikasi dalam bentuk diskusi adalah format utama dari suatu kolaborasi. Untuk dapat melakukan kolaborasi juga dibutuhkan kerjasama dan komitmen kedua belah pihak, karena jika tidak maka hal tersebut tidak akan efektif. Kolaborasi juga dapat memakan cukup banyak waktu, usaha, dan kemampuan sehingga dibutuhkan kesabaran pula untuk mendapatkan hasil yang baik.

Semoga bermanfaat ☺


image source : http://www.examiner.com/images/blog/EXID5939/images/conflict_revised%282%29.JPG

1 comment:

  1. salam kenal..
    berkunjung ke blog kami ya

    Cheers,

    Metamind

    ReplyDelete

Blogger Template by Clairvo